Sebuah Ujung dari Perjalanan Singkat Seorang Pemuda
Bismillah...
Yihaaa...
Gue awali postingan kali ini dengan bismillah,mudah"an apa yang gue tulis berikutnya jadi manfaat nih,
buat elu elu yang baca,dan buat gue pribadi juga.

Setelah sekian lama bertapa di negeri kapuk,
akhirnya sekarang ada moment tepat buat nulis lagi.
Terlalu banyak cerita yang begitu sayang di lewatkan jika gue nggak nulis,
banyak kejadian-kejadian hebat sehebat sahabat dashyat dah pokoknya mah....
entah gue harus mulai dari mana, yang jelas...
Beberapa waktu yang lalu, gue dapet kabar duka.
sahabat SMA gue, hmm teman yang sederhana, selalu penuh semangat, ikhwan hebat Risamsi (rohis sekolah gue) , dipanggil menghadap ALlah SWT.
Saputra.
Iya namanya cuma sepenggal itu.
Sesederhana itu, sesederhana sikap dan sifatnya sehari-hari,
tapi semangatnya, jauuuh dari sederhana.
Saputra.
Seorang ikhwan, seorang temen yang selalu ngingetin gue untuk sholat Dzuhur berjamaah dulu di mesjid sekolah sebelum pulang, seorang yang selalu ngingetin gue untuk ikut Liqo' , dibanding jalan bareng si hanum terus.
Tsah elaah, masiii ajeee hanum dibahas ndra.
LAAH TRUS KNAPA ?
hahaha tenang, udah move on kok, dari berbulan-bulan lalu.
ihiiiiy...

Gimanapun juga mantan yang satu itu memberikan pelajaran hebat untuk kedewasaan meski nggak akan pernah gue mau untuk balikan lagi.
Oke.
Skip.
Kenapa malah bahas mantan.

NAH !
Si Saputra ini, selain anak rohis, doi juga anak JINDA.
apa itu JINDA ? yang jelas bukan wanita yang ditinggal mati suami.
itu mah JANDA.

Oke.
Fokus.
JINDA adalah akronim, yang berarti Jihad Dalam Nada.
ehm, harusnya sih lebih tepat 'JIDAN' ye ?
tapi udehlah, ngapain juga lu pikirin -_-
iya, Jinda adalah sebuah Tim Nasyid sekolah gue waktu itu,
dari RISAMSI (Remaja Islam SMAN 6 Bekasi).
Selain seorang anak rohis,personil tim nasyid, saputra ini juga anak Pramuka.
iya, dia Pramuka hebat sekolah gue, bisa menempatkan kapan jadi Ikhwan, kapan jadi Pramuka.
Saputra.
antum sudah membuktikan, membuktikan kepada kami,
bahwa penyakit, bahwa sakit, bukanlah apa-apa dibanding nikmat-Nya yang jauh lebih besar kita terima semenjak kita lahir.
Put, ane inget ketika kita pertama Liqo',
murrobi kita ketika itu, bang chandra, menanyakan satu persatu nama kita masing-masing.
'Nah kenalan yaa satu-satu,mulai dari antum...'
'Nama saya Indra bang, panggilan Pram, hehehe soalnya kan Indra Pramana Putra, abis nama Indranya udeh banyak bener,jadi Pram aja bang,he he he...'
'Assalamualaikum, nama ane Saputra bang. Ngg,., panggilannya 'UTA' aja...'
'LAH, kok jadi UTA put ??' kata gue waktu itu,
'Nggak papa biar keren aja.'
Ngakak semua itu peserta liqo' waktu itu yang kira-kira berjumlah 8 orang.
Hehehe.

Uta, begitu biasa antum ingin dipanggil kan, (meski gue dan ikhwan yang lain selalu manggil elu.. 'put. put...')
Tenanglah disana kawan,insyaallah semua yang masih ada di dunia ini, ayah,ibu, sodara-sodara antum, kawan" antum termasuk kami semua, sudah ikhlas dengan kepergian antum yang secepat ini.
TBC Tulang yang menggerogoti dan melumpuhkan tubuh antum pun tak kuasa meredam semangat antum untuk tetap berjamaah di masjid.
itu penggalan cerita dari ayah antum put, ketika ane ngelayat kerumah antum bersama kawan-kawan ketika itu.
Ada air mata haru yang mendalam dari ayah antum, tapi tidak jua menyembunyikan rasa bangga yang luar biasa dia memiliki anak seperti antum.
Saputra, izinkan ane mengingat seluruh semangat-semangat antum,
untuk juga menjadi penyemangat kami yang masih sehat dan masih hidup,
bahwa begitu banyak Nikmat sehat yang Dia berikan namun seringkali kita lalaikan.
Mudah-mudahan gue, termasuk orang-orang yang nggak melalaikan nikmat sehat ini,
kami semua, termasuk golongan orang-orang yang bersyukur, makin mendekatkan hati kami pada masjid,
pada Tuhannya, pada pencipta kami yang sesungguhnya.
Saputra, beristirahatlah dengan tenang, Insya Alloh, Alloh SWT punya tempat terbaik untuk antum disana.

Dan foto dibawah gue inget, pas sekolah kita kena banjir bandang yang 5 tahunan sekali itu,
dibawah elo lagi ngangkat sound sistem buat mesjid kan, tepatnya lagi menyelamatkan bareng anak-anak ekskul lain,hihihi.

(buat yang gak tau, saputra yang pake baju olahraga)
Dan yang dibawah ini, antum ketika udah kerja, dan ane nggak tau penghargaan macam apa yang antum terima hingga dihadiahin kardus segitu gedenya,hehehehe.

Dan... Sekali lagi....
Selamat jalan kawan, selamat jalan ikhwan fillah :')

Yihaaa...
Gue awali postingan kali ini dengan bismillah,mudah"an apa yang gue tulis berikutnya jadi manfaat nih,
buat elu elu yang baca,dan buat gue pribadi juga.

Setelah sekian lama bertapa di negeri kapuk,
akhirnya sekarang ada moment tepat buat nulis lagi.
Terlalu banyak cerita yang begitu sayang di lewatkan jika gue nggak nulis,
banyak kejadian-kejadian hebat sehebat sahabat dashyat dah pokoknya mah....
entah gue harus mulai dari mana, yang jelas...
Beberapa waktu yang lalu, gue dapet kabar duka.
sahabat SMA gue, hmm teman yang sederhana, selalu penuh semangat, ikhwan hebat Risamsi (rohis sekolah gue) , dipanggil menghadap ALlah SWT.
Saputra.
Iya namanya cuma sepenggal itu.
Sesederhana itu, sesederhana sikap dan sifatnya sehari-hari,
tapi semangatnya, jauuuh dari sederhana.
Saputra.
Seorang ikhwan, seorang temen yang selalu ngingetin gue untuk sholat Dzuhur berjamaah dulu di mesjid sekolah sebelum pulang, seorang yang selalu ngingetin gue untuk ikut Liqo' , dibanding jalan bareng si hanum terus.
Tsah elaah, masiii ajeee hanum dibahas ndra.
LAAH TRUS KNAPA ?
hahaha tenang, udah move on kok, dari berbulan-bulan lalu.
ihiiiiy...

Gimanapun juga mantan yang satu itu memberikan pelajaran hebat untuk kedewasaan meski nggak akan pernah gue mau untuk balikan lagi.
Oke.
Skip.
Kenapa malah bahas mantan.

NAH !
Si Saputra ini, selain anak rohis, doi juga anak JINDA.
apa itu JINDA ? yang jelas bukan wanita yang ditinggal mati suami.
itu mah JANDA.

Oke.
Fokus.
JINDA adalah akronim, yang berarti Jihad Dalam Nada.
ehm, harusnya sih lebih tepat 'JIDAN' ye ?
tapi udehlah, ngapain juga lu pikirin -_-
iya, Jinda adalah sebuah Tim Nasyid sekolah gue waktu itu,
dari RISAMSI (Remaja Islam SMAN 6 Bekasi).
Selain seorang anak rohis,personil tim nasyid, saputra ini juga anak Pramuka.
iya, dia Pramuka hebat sekolah gue, bisa menempatkan kapan jadi Ikhwan, kapan jadi Pramuka.
Saputra.
antum sudah membuktikan, membuktikan kepada kami,
bahwa penyakit, bahwa sakit, bukanlah apa-apa dibanding nikmat-Nya yang jauh lebih besar kita terima semenjak kita lahir.
Put, ane inget ketika kita pertama Liqo',
murrobi kita ketika itu, bang chandra, menanyakan satu persatu nama kita masing-masing.
'Nah kenalan yaa satu-satu,mulai dari antum...'
'Nama saya Indra bang, panggilan Pram, hehehe soalnya kan Indra Pramana Putra, abis nama Indranya udeh banyak bener,jadi Pram aja bang,he he he...'
'Assalamualaikum, nama ane Saputra bang. Ngg,., panggilannya 'UTA' aja...'
'LAH, kok jadi UTA put ??' kata gue waktu itu,
'Nggak papa biar keren aja.'
Ngakak semua itu peserta liqo' waktu itu yang kira-kira berjumlah 8 orang.
Hehehe.

Uta, begitu biasa antum ingin dipanggil kan, (meski gue dan ikhwan yang lain selalu manggil elu.. 'put. put...')
Tenanglah disana kawan,insyaallah semua yang masih ada di dunia ini, ayah,ibu, sodara-sodara antum, kawan" antum termasuk kami semua, sudah ikhlas dengan kepergian antum yang secepat ini.
TBC Tulang yang menggerogoti dan melumpuhkan tubuh antum pun tak kuasa meredam semangat antum untuk tetap berjamaah di masjid.
itu penggalan cerita dari ayah antum put, ketika ane ngelayat kerumah antum bersama kawan-kawan ketika itu.
Ada air mata haru yang mendalam dari ayah antum, tapi tidak jua menyembunyikan rasa bangga yang luar biasa dia memiliki anak seperti antum.
Saputra, izinkan ane mengingat seluruh semangat-semangat antum,
untuk juga menjadi penyemangat kami yang masih sehat dan masih hidup,
bahwa begitu banyak Nikmat sehat yang Dia berikan namun seringkali kita lalaikan.
Mudah-mudahan gue, termasuk orang-orang yang nggak melalaikan nikmat sehat ini,
kami semua, termasuk golongan orang-orang yang bersyukur, makin mendekatkan hati kami pada masjid,
pada Tuhannya, pada pencipta kami yang sesungguhnya.
Saputra, beristirahatlah dengan tenang, Insya Alloh, Alloh SWT punya tempat terbaik untuk antum disana.

Dan foto dibawah gue inget, pas sekolah kita kena banjir bandang yang 5 tahunan sekali itu,
dibawah elo lagi ngangkat sound sistem buat mesjid kan, tepatnya lagi menyelamatkan bareng anak-anak ekskul lain,hihihi.

(buat yang gak tau, saputra yang pake baju olahraga)
Dan yang dibawah ini, antum ketika udah kerja, dan ane nggak tau penghargaan macam apa yang antum terima hingga dihadiahin kardus segitu gedenya,hehehehe.

Dan... Sekali lagi....
Selamat jalan kawan, selamat jalan ikhwan fillah :')




Sesungguhnya dia sedang tersenyum disana karena bgitu banyak dosa yg telah gugur saat dia sakit. Tp terimakasih saputera,kau bnyak mngajarkan arti Sabar jg tawakal...
BalasHapuskami disini insya allah akan terus menghargai hidup dgn penuh rasa syukur.