Cerita Sore dan Secangkir Kopi
Hingga beberapa
saat sebelum tiba, saya tersadar. Bahwa baru saja saya akan tiba di sebuah kota,
ibu kota tepatnya, yang amat sangat meng-agung-agung kan persija.
agung...
agung..
agung...
Kota dengan ultras JakMania yang tersebar di berbagai wilayah ibu kota ini.
Sementara selang beberapa waktu sebelumnya saya masih menjejakan kaki dimana hawa Bobotoh begitu terasa. Dimana stiker-stiker dan coretan biru khas Viking dan Persib tersebar di berbagai sudut.
agung...
agung..
agung...
Kota dengan ultras JakMania yang tersebar di berbagai wilayah ibu kota ini.
Sementara selang beberapa waktu sebelumnya saya masih menjejakan kaki dimana hawa Bobotoh begitu terasa. Dimana stiker-stiker dan coretan biru khas Viking dan Persib tersebar di berbagai sudut.
Iya.
Kota itu adalah
Bandung.
Sebuah kota
dimana semua cowok remaja,tanggung,mas-mas,atau apalah namanya seusia gue,
pasti dipanggil dengan sebutan A’ , dan yang cewek dipanggil dengan panggilan
‘Neng’. He he he.


Waktu kemudian
coba gue mundurin tepat disaat pagi itu gue memacu motor ini jam 5 pagi menuju
daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Menunggu beberapa menit hingga akhirnya sosok
wanita itu muncul dihadapan gue dengan
senyum yang indah.


Hingga kemudian
cerita berlanjut di Bis, sebuah perjalanan menuju Kota Bandung di mulai. Sebuah
perjalanan tanpa kematangan rencana dan mungkin akan menjadi kisah backpacker
paling absurd yang pernah ada.
Hingga kemudian
saya tersenyum melihat wanita ini hadir di sebelah saya, duduk di kursi yang
bersebelahan dengan saya. Melihatnya memandang jalan, memandang hamparan hijau
terbentang di samping cipularang. Menyadarkan saya bahwa wanita ini luar biasa
baiknya, dan ini adalah nyata. Betul-betul nyata. Dia ada disamping saya
sekarang.
Hingga mendekati
pukul 9 pagi kami tiba di terminal leuwih panjang. Sebuah terminal yang sama
padatnya, sama kumuhnya juga dengan terminal-terminal lain di Jakarta.
Perjalanan kemudian dilanjut saat kami naik Damri untuk menuju daerah Dipatih
Ukur. (bener nggak gue nulisnya ? Whatever lah,pokoknya kata temen gue,
sebut saja D.U, nggak usah panjang-panjang -_-)
Sadar udah tiga paragraf sebelumnya pake kata depan 'HINGGA', gue pun kali ini pengen cerita, bahwa Kondisi Damri
yang saya tumpangi di Bandung nggak kalah buruknya dengan kopaja-metromini Jakarta. Bangku
yang sekali duduk dan berderit, kenek, supir,yang (ternyata) sangat ugal-ugalan.
Memusnahkan mindset gue tentang kota ini yang berpikir disini kenek ama supir
aja kalem-kalem...
Sayang pikiran guesangat salah.

Sayang pikiran gue

Beberapa kali
pengamen masuk ke Damri ini.
Iya pengamen.
Iya pengamen.
Mereka nyanyi
sambil gitaran di Damri, sebuah fokus gue tertuju ketika ada sebuah stiker
bergambar Jokowi-Basuki menempel di salah satu gitar pengamen ini.
Ini bikin gue
mikir.
Apa hubungannya
Jokowi-Basuki sama Bandung ?
Nggak tau ya.
Jangan tanya gua juga.

Jangan tanya gua juga.

Yah euphoria
pemilukada D.K.I Jakarta kemaren emang mampir juga ke Bandung ternyata.
Dan mampir menempel di tempat yangtidak tepat.
Dan mampir menempel di tempat yang
Gitar pengamen
Damri.

Random abis.
Sepanjang perjalanan di dalem Damri ini, perhatian saya tertuju pada wanita yang duduk disebelah saya, menceritakan kisahnya ketika dia masih kuliah di STT Telkom, kisahnya pertama kali naik Damri ini. Semua detil yang dia ucapkan, dan iringan musik pengamen ini, menjadikan semuanya yang ada pada hari ini begitu beragam.
Lagi-lagi saya tidak menyangka, bahwa wanita ini bisa ada di samping saya, bersebelahan kursi dengan saya, tersenyum kepada saya.

Random abis.
Sepanjang perjalanan di dalem Damri ini, perhatian saya tertuju pada wanita yang duduk disebelah saya, menceritakan kisahnya ketika dia masih kuliah di STT Telkom, kisahnya pertama kali naik Damri ini. Semua detil yang dia ucapkan, dan iringan musik pengamen ini, menjadikan semuanya yang ada pada hari ini begitu beragam.
Lagi-lagi saya tidak menyangka, bahwa wanita ini bisa ada di samping saya, bersebelahan kursi dengan saya, tersenyum kepada saya.
Iya.
Wanita ini, tersenyum cantik sekali ketika itu, dan berbicara dengan lembut dan manis.
Wanita ini, tersenyum cantik sekali ketika itu, dan berbicara dengan lembut dan manis.
Dan orang ini betul-betul ada di sebelah saya. :')
Cerita berlanjut, ketika kami turun dari Damri, kemudian tiba juga di Dipatih Ukur.
Oke.
Ngomong-ngomong soal Dipatih Ukur, apapun itu namanya, gue jadi inget lagi dan pengen gue ceritain.
Gue update soal backpacker Trip gue ini di grup whatsap gue ketika itu, ada
sahabat yang lain disana.
‘WUOI SIRO ! GUE SAMPE... alhamdulillah mendarat dengan selamat di Bandung
dooong.’
Bla bla bla...
Setelah beberapa obrolan, gue bilang,
‘Iya bentar lagi gue bakal ke Dipatih Ukur nih, nyari sarapan. Ini lagi bingung nyari sarapan apa di Dipatih Ukur.’
‘Iya bentar lagi gue bakal ke Dipatih Ukur nih, nyari sarapan. Ini lagi bingung nyari sarapan apa di Dipatih Ukur.’
‘ ‘DU’ aja kali ndra, gak usah lengkap-lengkap amat, DIPATIH UKUR segala.
Norak nih...’
‘...’


Rasanya pengen gampar orang itu pake selongsong gedebong pisang.
Tapi berhubung pas itu gue masih punya utang 80rebu ama doi gara-gara ATM
gue ilang,
Niat itu gue urungkan.

Eniwei...
Niat itu gue urungkan.

Eniwei...
Disana gue baru tau, kalo ada Unpad juga.
Iya sodara-sodara.
GUA BARU TAU.


Gue kira UNPAD itu Cuma ada di Jatinangor.
Nah di sekitaran UNPAD dipatih uk... , ehm,
Nah Di sekitaran UNPAD ‘D.U’ itu gue sama cewek ini nyari sarapan, dia beli
lontong kari, gue beli nasi kuning. Dan porsi sarapan nasi kuning disini
beneran edan. Bisa lo bagi dua, separonya lagi buat makan siang.
Asli.
BANYAK BANGET.
Awalnya gue pengen makan dubur, eh salah, sori, BUBUR maksudnya 

Tapi Buburnya abis, kebetulan emang pengen makan bubur soalnya gue abis
ganti karet behel ini, (tsaaah gaya) , iya kalo abis ganti karet itu, masih
sakit, jadi masih kenceng iketannya. Males nguyah, jadi mo mesen bubur. Tapi
buburnya abis.
Nah pedagang yang jual Bubur ini ternyata dia jual Nasi kuning juga.
Ada yang tau hubungan Bubur sama Nasi Kuning ?
Kenapa mereka bisa dijual bersamaan oleh si pedagang ?
Kenapa si pedagang lebih memilih Bubur di duetkan dengan Nasi Kuning ?
Kenapa nggak Bubur sama Nasi Goreng ?
Bubur dengan Sosis Goreng ?
Bubur dengan Mi Ayam ?
Bubur dengan Pizza ?
Kenapa harus dengan Nasi Kuning ?
Apakah Bubur ternyata adalah asal muasal terciptanya Nasi Kuning ?
Hingga mereka berkerabat dekat dan tak bisa dipisahkan ?
Entahlah.
Hanya Tuhan dan Pedagang ini yang tau.
Oke, Abaikan.


Gue sarapan dengan membabi buta baca tulis.
Iya asli, membabi buta.
Karena gue ketika itu laper banget, dan emang belom sarapan, dan nasi kuning yang konon bisa gue bagi dua buat makan siang itu justru malah abis pagi itu juga. Si wanita ini malah nggak gitu nafsu sama sarapannya. Karena sarapannya kemanisan.
Karena gue ketika itu laper banget, dan emang belom sarapan, dan nasi kuning yang konon bisa gue bagi dua buat makan siang itu justru malah abis pagi itu juga. Si wanita ini malah nggak gitu nafsu sama sarapannya. Karena sarapannya kemanisan.
Tenang.
Gue tau apa yang ada dipikiran elo semua, kemanisannya bukan karena gue ada
disana kok.
Tenang aja, sama sekali bukan.


Mhuehehehehehe.
*ketawa setan*
Iya, jadi lontong kari ini pake kecap, dan baru ada nemuin gue orang ga
suka kecap, berarti dia ga doyan semur daging, bistik daging, sate ayam madura.
Ckckckck.
Kasian, miris sekali hidupnya.
Gue pun memendam rasa iba.

Selese sarapan, si cewek cantik ini nanya ke ibu-ibu yang jualnya, rute
angkot menuju CIZZ.
CIZZ ini (perlu gue jelaskan), bukanlah saudara jauh dari CIYUZZ, CUNGGUH,
MIAPAH.
Sama Sekali BUKAN dan GAK ADA HUBUNGANNYA.
Cam kan itu.

Sama Sekali BUKAN dan GAK ADA HUBUNGANNYA.
Cam kan itu.

CIZZ ini adalah sebuah tukang jual,ehm,agak ga elit kalo dibilang tukang
jual,hmm.. apa ya namanya, sejenis chesse cake factory gitulah. Disitu kita
berdua makan cake, dan cake yang di idam-idamkan cewek ini, chesse cake
stroberi yang konon katanya dia enak itu, ternyata abis.
Kasian.


Disitu akhirnya kita pesen chesse cake yang lain, dan ada pasangan sejoli
disitu disebelah kita, ternyata makan chesse cake stroberi yang tadinya mo kita
beli.
Tampaknya dia pelanggan terakhir yang beli itu cake stroberi.
Kasian.


Akhirnya kita berusaha ikhlas dan menikmati chesse cake lain yang kita
pesen, ini nih potonya :
Maap kalo ada coaknya, abis di sendokin pake sendokan pertama.
Perhatikan ‘benda’ yang diatas cake gue.
Cake gue yang putih, ada benda menghitam diatasnya.
Cake gue yang putih, ada benda menghitam diatasnya.
Percayalah kawan, itu bukanlah KECOA.
Itu adalah coklat yang dikeruk dan dibikin spiral,dan memang,ehm... bentuknya persis... uhm... kecoa.
Itu adalah coklat yang dikeruk dan dibikin spiral,dan memang,ehm... bentuknya persis... uhm... kecoa.
Nggak bohong,chesse cakenya enak banget, sepotong kecil gini harganya
15rebuan, bisa buat ketoprak dua piring.
Oke, Abaikan.
Chesse cake ini emang ga bisa dibandingin sama ketoprak dua piring, enaknya
emang bener-bener enak. Barang siapa yang ke Bandung, harus nyobain makan
Chesse cake ke CIZZ ini, lokasinya di daerah Jalan Laswi 1A Bandung.
Gue bukan DUTA CIZZ, apalagi bintang iklannya.
Oke, setelah dua kali suap memakan cake masing-masing, apa yang terjadi
sodara-sodara ?
TERNYATA CHESSE CAKE STROBERI PAPORIT YANG JADI PRIMADONA ITU MUNCUL !
BUSET !
Tadi itu mbak-mbak pas ditanya katanya ABIS !
BILANG KEK KALO MISALNYA LAGI PRODUKSI LAGI DI DAPUR DAN DIKIT LAGI MATENG,
KITA KAN BISA NUNGGU DULU.


Sensasinya itu lho, makan sesuap, dua suap, tiba-tiba ada koki dari dapur
dengan kalemnya naro SELOYANG PENUH CHESSE CAKE STROBERI itu dengan jumawa di
lemari kaca.
Terpajang manis disana.
Terpajang manis disana.
Kita Cuma bisa melet.
Kampret.


Ya Iyalah, ga mungkin juga emang beli lagi, selain udah sarapan besar
sebelumnya, trus kita nambah lagi mesen chesse cake satu lagi, zzzz, udah kayak
orang bener aje.
Beli chesse cake nambah, laper ape doyan ?
Beli chesse cake nambah, laper ape doyan ?
Yah udahlah, meski nggak makan yang itu, tapi gue berdoa aja dalem hati,
semoga next time bisa dikasih kesempatan untuk kesini lagi, dan nyobain cake
yang itu, dan mudah-mudahan ketika itu udah ada cincin yang melingkar di jari
manis kita berdua.
Aamiin.
Aamiin.

Abis ini gue bakal nyeritain gimana perjalanan gue di Ciwalk, dan dinner di
Dago Atas, sebuah kafe keren, namanya Lisung Cafe.
Tapi segini dulu, kepanjangan soalnya kalo ditulis disini semua, lagian gue
emang mo boker dulu.
Udah dua hari belum boker.


HUAHAHAHAHAHA.
-PART I bersambung-









arrrgggggghhhhhhhhh.............*no Comment*
BalasHapus