'Dua Garis Biru' : Sajian dalam Negeri yang Sarat Makna dan Fantastis !

Gue gak tau gimana ini film pada akhirnya bisa bikin gue mikir keras setelah kelar nontonnya.

Angga dan Zara tampil sangat epik dalam film ini.
Gila sih, gue seorang bapak-bapak beranak (baru) satu dan beristri satu juga (tentu saja) yang baru aja pulang kantor dari daerah Gatot Subroto dan dijebak istri gue (karena tiba-tiba tiketnya udah dibeli) dan kemudian nonton di jam 7 malem di bioskop deket rumah dan kemudian abis kelar nonton gue bilang : 
Gila sih ini filmnya. 
Gak nyangka sebagus ini messagenya.

Se-gak nyangka gue juga udah ngetik ‘dan’ sebagai kata penghubung dalam paragraf diatas sebanyak 5 kali.
🌝
Okesip.
Nah, kenapa pada akhirnya gue bisa bilang messagenya bagus ?

Karena sebagai seorang pekerja dan bapak-bapak buncit muda pada umumnya, gue agak males untuk nonton film yang segmentasinya ABG banget gini. Selain itu dengan judul Dua Garis Biru dan 2 ABG pada covernya, sangat mudah ditebak film ini bercerita tentang 2 anak SMA yang pacaran kemudian si cewek bunting di luar nikah dan konfliknya kisaran itu.

Pasti gitu.
Ternyata…
Ya emang kayak gitu.
😂
Tapi yang membedakan adalah, beberapa point berikut :

1. Sinematografi
Asli gue suka banget departemen sinematografi dalam film ini, depth effect yang pas dan gak berlebihan muncul secara tepat di film ini. Sesekali menambah kesan kemuraman dalam film ini. Selain itu, Teknik pencahayaannya juga keren banget. Nuansa cerah, penggambaran kehidupan sisi ibukota yang agak kumuh, sempit, di gang-gang kecil di-take dengan sangat baik dari segala aspek. Epic!


2. Acting
Yang gue inget dari seorang Zara adalah perannya sebagai Disa alias adik dari Dilan, yang sangat memorable meski dapet scene amat sangat sedikit. Yang nyatanya di film ini mampu meraih spotlight dengan baik Bersama Angga Yunanda. Yang secara bombastis kulitnya Angga aslinya putih menjadi item kereng bangat di film ini. Yang kemudian gue sadar juga udah bikin semua awal kalimat dalam paragraf ini pake kata Yang sampe batas titik ini. Zara dan Angga harus diakui bermain sangat ciamik, mereka bisa berbincang dengan suara bergetar dengan konotasi jelas namun bisa sambil meneteskan air mata. Credit juga secara luar biasa tentu layak diberikan pada Dwi Sasono, Cut Mini, dan the legend Lulu Tobing. Ini adalah comeback Lulu Tobing setelah sekian lama ke industri film. Namun acting Lulu disini berasa banget kayak udah sering main. Dwi Sasono apalagi, pecahnya tangisan Dwi pas tau anaknya dihamilin, ditambah tabokan maut cut mini yang sekuat tenaga itu. Ah, mereka bener-bener aspek yang bikin film ini bikin makin keren.


3. Naskah
Ini yang paling berharga. Kebanyakan film drama buatan lokal kurang begitu memiliki naskah yang kuat, sekalinya kuat sangat njlimet dan hiperbola untuk divisualisasikan. Alur cerita film ini sangat baik, penggambaran semua karakternya sangat cukup pada porsinya masing-masing. Termasuk saat konflik. Semua konflik hadir disini. Konflik dengan orang tua, konflik antar besan, konflik kakak adik, dan tentu saja konflik antar pasangan. Pasangan disitu juga komplit, pacar sama pacar konflik, suami sama si istri orang tua anak-anak ini juga konflik. Semuanya diracik dengan takaran yang pas yang sama sekali tidak membuat bosan. Karena apaan ? Karena relate banget sama kehidupan manusia di negara +62 pada umumnya. 

4. Pesan film
Ini sebenernya masuk di poin 3, tapi gue tulis lagi disini. Gue ngerasa baru kali ini keluar dari bioskop terus ngobrol serius sama istri gue. “Gila ya, kita jadi kepikiran juga sama anak kita. Ngedidik anak itu emang luar biasa banget” . Iya. Setelah kelar nonton gue sama istri jadi kepikiran. Enggak, ini bukan lebay, tapi ada satu momen yang gue inget banget saat si Bima bilang bahwa dia bakal bertanggung jawab atas bayinya, si Ibu pacarnya bilang : “Merawat bayi itu bukan Cuma 9 bulan 10 hari, tapi seumur hidup ! Mama aja gagal jadi orang tua !” Gagal disitu maksudnya karena gagal mendidik anaknya dengan baik sehingga anaknya bisa hamil di luar nikah. Tenang, percakapan diatas ada di trailernya, jadi bukan spoiler. Banyak banget quotes lainnya dan pesan-pesan terselubung lainnya dalam film ini yang menurut gue sangat positif. Karena emang gak ada sex education di indonesia. Rata-rata saat nonton bioskop bareng sekeluarga, ketika ada adegan ciuman di layar, serentak si orang tua biasanya langsung refleks nutupin mata anak-anaknya. Sebatas itu saja mereka menganggap sudah memberikan pengetahuan yang baik soal pubertas, sex, dan hal lain sekitaran itu. Padahal, sayangnya belum. Ending film ini buat gue dikemas dengan sangat epic. Membuat para remaja dapat berpikir kritis dan cerdas atas semua perilakunya saat ini.

5. Film Score (Backsound)

Ini juga yang gue suka banget. Scoring atau yang biasa kita sebut backsound dalam tiap scene itu kece parah sih. Meski sangat gue sayangkan karena bandnya udah bubar. Tapi kehadiran Rara Sekar dan nuansa khas ala Banda Neira dalam tiap scene itu bikin suasananya deep banget sih. Selain karena emang lagu-lagu Banda Neira emang cakep, tapi juga karena penempatan pada tiap scene itu gue yang emang tepat banget. Pas air mata Dara satu-satu netes dipinggir kali, pas Bima lagi stres dalem kamar, pas dua-duanya saling ribut. Ah... Banda Neira, kapan kalian reuni ?


Sebagai movie enthusiast yang biasa aja, gue cuma bisa menceritakan 5 point itu. Selebihnya sebagai manusia indonesia yang harusnya cinta produk lokal, gue sangat mengapresiasi ketika ada film lokal yang bener-bener bagus banget. Buatan anak bangsa men, bagus ! Salut untuk Gina S. Noer atas debutnya dalam penyutradaan film ini. 
Yang menggelitik adalah, film ini memberi pesan kepada 2 generasi. Yang pertama untuk adalah generasi si anak-anak ABG (si mayoritas pembeli tiket film), sementara yang kedua adalah untuk generasi ayah-ibu muda beranak 1 atau 2 (si minoritas pembeli tiket film) ya contohnya gue dan istri gue. Pesan pentingnya adalah gimana caranya menjadi orang tua yang bisa mendidik tanpa menggurui, bisa jadi panutan sekaligus jadi teman bicara dan konsultasi bagi anak-anaknya. Membuat para remaja selalu berpikir ulang atas semua rasa penasaran yang nggak perlu semuanya dicicipin. Masa remaja adalah masa berapi-api yang penuh dengan rasa penasaran dan hal baru, kalo semangat itu nggak dibawa ke jalur yang positif, satunya-satunya hal yang kemudian dapat digenggam oleh generasi muda adalah : penyesalan.


Pada akhirnya, ini bukanlah film cinta, tapi film keluarga. 
Terimakasih yang sangat besar kepada istri gue yang udah menjebak ngajak gue untuk nonton ini film.
Score final : 8/10 – Layak Tonton Banget . Rekomen !

*semua foto adegan dalam film ini adalah screenshoot dari trailernya di youtube starvisionplus

Komentar

  1. keren banget pak reviewnya, sumpah bacanya merinding

    BalasHapus
  2. Baca reviewnya sedegdegan ini, benar-benar terasa ketika anda mengetiknya, andapun berdebar. Oke. Sekarang saya beli tiketnya fiks.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer